Langkah – langkah membuat lapora tahunan

13 Jan
Langkah – langkah membuat laporan tahunan :
1.      Buka  MICROSOFT EXCEL
2.      Lalu tambahkan sheet sebanyak sebanyak 20 sheet  dan ubah nama-nama sheet tersebut menjadi :
o   Sheet 1 ,,, beri nama dengan DATA
o   Sheet 2 – sheet 4,,, beri nama dengan BULAN
untuk nama bulan lakukan sampai sheet 4 atau hanya membuat sampai bulan maret saja… Jadi dari sheet 2 yaitu bulan Januari dan sheet 3 bulan Februari dan sheet 4 bulan maret.
o   Sheet 5,,, beri nama dengan TW1 ( TriWulan 1 )
o   Sheet 6 – sheet 8,, beri nama dengan BULAN
untuk nama bulan lakukan sampai sheet 8 atau hanya membuat sampai bulan juni saja… Jadi dari sheet 6 yaitu bulan April dan sheet 7 bulan Mei dan sheet 8 bulan Juni…
o   Sheet 9,,, beri nama dengan TW 2 ( TriWulan 2 )
o   Sheet 10,,, beri nama dengan SMT 1 ( Semester 2 )
o   Sheet 11 – sheet 13,,, beri nama dengan BULAN
untuk nama bulan lakukan sampai sheet 11 atau hanya membuat sampai bulan September saja… Jadi dari sheet 11 yaitu bulan Juli dan sheet 12 bulan Agustus dan sheet 12 bulan September.
o   Sheet 14,,, beri nama dengan TW3 ( TriWulan 3 )
o   Sheet 15 – sheet 17,,, beri nama dengan BULAN
o   untuk nama bulan lakukan sampai sheet 15 atau hanya membuat sampai bulan Desember saja… Jadi dari sheet 15  yaitu bulan Oktober dan sheet 16 bulan November dan sheet 17 bulan Desember.
o   Sheet 18,,, beri nama dengan TW4 ( TriWulan 4 )
o   Sheet 19,,, beri nama dengan SMT2 ( Semester 2 )

o   Sheet 20,,, beri nama dengan THN ( Tahunan )

awal

3. Buat data yang diperlukan yang telah diteliti pada sheet DATA

data

4.      Pada data-data tersebut, klik… misalnya bulan Januari … buat singkatannya untuk memudahkan memanggil data di sheet lain dan begitu juga seterusnya pada data lain.
               panggil data
5.      Buatlah data di setiap sheet BULAN ( januari – desember )
                        data jan
6.      Buatlah judul diatas tabel data dengan cara berikut:
=judull&”PUSKESMAS”&pkms&” “&kab&” “&JAN&”TAHUN”&tahun
                      Akan muncul :
                                 judul...jan
7.      Pada tabel ada kolom pencapaian penimbangan terbagi 4 kolom yaitu kolom K/S, D/S, N/D dan N/S… cara mencarinya adalah
                             Ø  K/S   =K/S
                        Dan begitu juga untuk D/S, N/D dan N/S sesuai dengan letak selnya.
                             ks
8.      Pada kolom pembinaan cara mencari D/S dan N/D apakah perlu di bina atau tidak.
                           Misalnya: D/S
                          =IF(H6<tdsjan,”Bina”,”-“)
                                Begitu juga seterusnya…
                      ds
9.      Jika ingin mengetahui jumlah pembinaan D/S dan N/D tersebut, caranya:
                     Contoh untuk D/S
                      =countif(K6:K15,”Bina”)
                     Dan juga begitu selanjutnya…
                        sum
10.  Untuk menghitung jumlah masing-masing kolom data, gunakan :

                =sum(range yang diinginkan)
                         hasil akhir
11.  Untuk membuat catatan yang terdapat dibawah tabel dapat mengguanakan cara sebagai berikut :
                =”Catatan : Pada bulan “&JAN&” posyandu yang perlu dibina D/S nya adalah “&countif(K6:K15,”Bina”)&” posyandu dan     N/D               nya           adalah “&countif(L6:L15,”Bina”)&” posyandu
               Maka muncul ;
                     catatan
12.  Untuk membuat nama pimpinan puskesmas, tempat, tanggal dan tahun, lakukan cara berikut :
             –          Pimpinan puskesmas
                  =”Pimpinan Puskesmas”&pkms
               –          Tempat, tanggal dan tahun
                  =tmpt&”, 5 “&JAN&” “&tahun
               Maka :
                        tanggal
13.  Untuk membuat nama pimpinan posyandu serta NIP nya dan nama pelapor serta NIP nya, caranya adalah :
                 v  Nama pimpinan
                o   =dktr1
               v  NIP pimpinan
              o   =nipdr1
             v  Nama pelapor
              o   =NaTPG
               v  Nip pelapor
              o   =niptpg1
                            dktr
14.  Untuk membuat laporan penimbangan pada TW1,,,,lakukan juga pada tw2,tw3, tw4 pada kolom hasil penimbangan (S, K,D, dan N).DAN begitu juga pada (K/S, D/S, N/D, N/S ).Maka lakukan:
Ø  Misal pada “S”
=Average (letak sel pada sheet 1,sheet 2, sheet 3), kemudian enter
               Begitu juga pada (K, D, N) DAN (K/S, D/S, N/D, N/S )…
                         tw1
15.  Untuk membuat laporan penimbangan pada SMT (SMT 1dan SMT 2)
Maka lakukukan ,,
Ø  Missal pada “S”
=Average (letak sel pada sheet tw1,sheet tw2), kemudian enter
                       smt
16.  Untuk membuat laporan penimbangan pada sheet TAHUNAN
Maka lakukukan ,,
Ø  Missal pada “S”
=Average (letak sel pada sheet SMT1,sheet SMT2), kemudian enter
                         thn
17.  Untuk membuat grafik dari data, gunakan cara :
( pada Ms. Word 2007 )
ü  Pilih insert
ü  klik chart
ü  pilih chart sesuai keinginan
ü  klik data yang ingin dimasukkan ke grafik
ü  atur sesuai keinginan
                        grafik
18.  Untuk membuat hyperlink pada bulan di sheet data, gunakan cara berikut :
§  Klik kanan pada text yang diingikan, pilih hyperlink
§  Pilih  place in the document
§  Pilih sheet yang ingin di hyperlinkkan
§  Pilih screen tip
§  Tulis sesuai yang diinginkan
§  OK
                         hyperlink
19.  Untuk menghilangkan gridlines..
( pada Ms. Word 2007 )
–          Pilih page layout
–          Pilih gridlines
–          hilangkan centang nya
                     gridline
20.  Lakukan protect sheet, caranya :
      Pilih sheet yang ingin di protect
      Pilih review
      Pilih protect sheet, keluar kotak dialog protect sheet,,.masukkan kode yang diinginkan
                          protect
     Keluar kotak dialog confirm password

buat kode yang sama

                      ptotect
         Klik OK

         o   Maka sheet tersebut sudah dilindungi (dikunci), tidak bisa diubah..
                   SELAMAT MENCOBA……….
Tulisan ini dapat dilihat pada blog saya yang lain (klik )
Advertisements

PRE EKLAMSIA KEHAMILAN (1)

13 Jan
  • Definisi pre eklamsi
  • Pre eklamsia adalah keadaan dimana hipertensi disertai dengan proteinuria, edema atau kedua-duanya yang terjadi akibat kehamilan setelah minggu ke 20 atau kadang-kadang timbul lebih awal bila terdapat perubahan hidatidiformis yang luas pada vili dan korialis (Mitayani, 2009).
  • Preeklamsi adalah penyakit dengan tanda-tanda hipertensi, proteinuria, dan edema yang timbul karena kehamilan. Penyakit ini umumnya terjadi dalam triwulan ke tiga pada kehamilan, tetapi dapat terjadi sebelumnya misalnya pada mola hidatidosa. (Rukiyah, 2010).
  • Preeklampsia merupakan suatu kondisi spesifik kehamilan dimana hipertensi terjadi setelah minggu ke-20 pada wanita yang sebelumnya memiliki tekanan darah normal. (Bobak , 2004)
  • Pre eklamsia adalah timbulnya hipertensi disertai proteinnuria dan atau edema setelah umur kehamilan 20 minggu atau segera setelah persalinan. Gejala ini dapat timbul sebelum umur kehamilan 20 minggu pada penyakit trofoblas. (Sujiyatini, 2009)
  • Pre eklamsia dapat dideskripsikan sebagai kondisi yang tidak dapat diprediksi dan progresif serta berpotensi mengakibatkan disfungsi dan gagal multi organ yang dapat mengganggu kesehatan ibu dan berdampak negative pada lingkungan janin. (Boyle M, 2007)

 Etiologi
Penyebab pre eklamsia saat ini tak bisa diketahui dengan pasti, walaupun penelitian yang dilakukan terhadap penyakit ini sudah sedemikian maju. Semuanya baru didasarkan pada teori yang dihubungkan dengan kejadian. Itulah sebab pre eklamsia disebut juga “disease of theory” (Rukiyah, 2010).
Teori yang dapat diterima haruslah dapat menerangkan hal – hal berikut : (1) sebab bertambahnya frekuensi pada primigravida, kehamilan ganda, hidramnion, dan molahidatidosa; (2) sebab bertambahnya frekuensi dengan makin tuanya kehamilan; (3) sebab dapat terjadinya perbaiakan keadaan penderita dengan kematian janin dalam uterus; (4) sebab jarangnya terjadi eklamsia pada kehamilan-kehamilan berikutnya; dan (5) sebab timbulnya hipertensi, edema, proteinuria, kejang dan koma. (Hanifa W, 2006).
Dari hal-hal tersebut diatas, jelaslah bahwa bukan hanya satu faktor, melainkan banyak faktor yang menyebabkan pre-eklamsia dan eklamsia.
Adapun teori-teori yang dihubungkan dengan terjadinya preeklamsia adalah:
1)    Peran prostasiklin dan trombiksan
Pada preeklamsia didapatkan kerusakan pada endotel vaskular, sehingga terjadi penurunan produksi prostsiklin (PGI 2) yang pada kehamilan normal meningkat, aktifasi pengumpulan dan fibrinolisis, yang kemudian akan digant trombin dan plasmin,trombin akan mengkonsumsi anti trombin III, sehingga terjadi deposit fibrin. Aktifasi trombosit menyebabkan pelepasan tromboksan (TXA2) dan serotonin, sehingga terjadi vasospasme dan kerusakan endotel (Rukiyah, 2010).
2)    Peran faktor imunologis
Preeklamsia sering terjadi pada kehamilan pertama dan tidak timbu lagi pada kehamilan berikutnya. Hal ini dapat ditererangkan bahwa pada kehamilan pertama pembentukan blocking antibodies terhadap antigen plasenta tidak sempurna, yang semakin sempurna pada kehamilan berikutnya. Beberapa data yang mendukung adanya sistem imun pada penderita PE-E, beberapa wanita dengan PE-E mempunyai komplek imun dalam serum, beberapa studi juga mendapatkan adanya aktifasi sistem komplemen pada PE-E diikuti proteinuria (Rukiyah, 2010).
3)    Faktor genetik
Beberapa bukti menunjukkan peran faktor genetik pada kejadian PE-E antara lain : (1) preeklamsia hanya terjadi pada manusia; (2) terdapatnya kecenderungan meningkatnya frekuensi PE-E pada anak-anak dari ibu yang menderita PE-E; (3) kescenderungan meningkatnya frekuensi PE-E pada anak dan cucu ibu hamil dengan riwayat PE-E dan bukan pada ipar mereka; (4) peran reninangiotensinaldosteron sistem (RAAS) (Rukiyah, 2010).
Yang jelas preeklamsia merupakan salah satu penyebab kematian pada ibu hamil, disamping infeksi dan perdarahan, Oleh sebab itu, bila ibu hamil ketahuan beresiko, terutama sejak awal kehamilan, dokter kebidanan dan kandungan akan memantau lebih ketat kondisi kehamilan tersebut.
Beberapa penelitian menyebutkan ada beberapa faktor yang dapat menunjang terjadinya preeklamsia dan eklamsia. Faktor-faktor tersebut antara lain,gizi buruk, kegemukan, dan gangguan aliran darah kerahim. Faktor resiko terjadinya preeklamsia, preeklamsia umumnya terjadi pada kehamilan yang pertama kali, kehamilan di usia remaja dan kehamilan pada wanita diatas usia 40 tahun. Faktor resiko yang lain adalah riwayat tekanan darah tinggi yang kronis sebelum kehamilan, riwayat mengalami preeklamsia sebelumnya, riwayat preeklamsia pada ibu atau saudara perempuan, kegemukan,mengandung lebih dari satu orang bayi, riwayat kencing manis, kelainan ginjal, lupus atau rematoid artritis (Rukiyah 2010).
Sedangkan menurut Angsar (2008) teori – teorinya sebagai berikut:
1)    Teori kelainan vaskularisasi plasenta
Pada kehamilan normal, rahim dan plasenta mendapatkan aliran darah dari cabang – cabang arteri uterina dan arteri ovarika yang menembus miometrium dan menjadi arteri arkuata, yang akan bercabang menjadi arteri radialis. Arteri radialis menembus endometrium menjadi arteri basalis memberi cabang arteri spiralis. Pada kehamilan terjadi invasi trofoblas kedalam lapisan otot arteri spiralis, yang menimbulkan degenerasi lapisan otot tersebut sehingga terjadi distensi dan vasodilatasi arteri spiralis, yang akan memberikan dampak penurunan tekanan darah, penurunan resistensi vaskular, dan peningkatan aliran darah pada utero plasenta. Akibatnya aliran darah ke janin cukup banyak dan perfusi jaringan juga meningkat, sehingga menjamin pertumbuhan janin dengan baik. Proses ini dinamakan remodelling arteri spiralis. Pada pre eklamsia terjadi kegagalan remodelling menyebabkan arteri spiralis menjadi kaku dan keras sehingga arteri spiralis tidak mengalami distensi dan vasodilatasi, sehingga aliran darah utero plasenta menurun dan terjadilah hipoksia dan iskemia plasenta.
2)    Teori Iskemia Plasenta, Radikal bebas, dan Disfungsi Endotel
a.Iskemia Plasenta dan pembentukan Radikal Bebas
Karena kegagalan Remodelling arteri spiralis akan berakibat plasenta mengalami iskemia, yang akan merangsang pembentukan radikal bebas, yaitu radikal hidroksil (-OH) yang dianggap sebagai toksin. Radiakl hidroksil akan merusak membran sel yang banyak mengandung asam lemak tidak jenuh menjadi peroksida lemak. Periksida lemak juga akan merusak nukleus dan protein sel endotel
b.Disfungsi Endotel
Kerusakan membran sel endotel mengakibatkan terganggunya fungsi endotel, bahkan rusaknya seluruh struktur sel endotel keadaan ini disebut disfungsi endotel, yang akan menyebabkan terjadinya :
a)    Gangguan metabolisme prostalglandin, yaitu menurunnya produksi prostasiklin (PGE2) yang merupakan suatu vasodilator kuat.
b)    Agregasi sel-sel trombosit pada daerah endotel yang mengalami kerusakan. Agregasi trombosit memproduksi tromboksan (TXA2) yaitu suatu vasokonstriktor kuat. Dalam keadaan normal kadar prostasiklin lebih banyak dari pada tromboksan. Sedangkan pada pre eklamsia kadar tromboksan lebih banyak dari pada prostasiklin, sehingga menyebabkan peningkatan tekanan darah.
c)    Perubahan khas pada sel endotel kapiler glomerulus (glomerular endotheliosis) .
d)    Peningkatan permeabilitas kapiler.
e)    Peningkatan produksi bahan – bahan vasopresor, yaitu endotelin. Kadar NO menurun sedangkan endotelin meningkat.
f)     Peningkatan faktor koagulasi
3)    Teori intoleransi imunologik ibu dan janin
Pada perempuan normal respon imun tidak menolak adanya hasil konsepsi yang bersifat asing. Hal ini disebabkan adanya Human Leukocyte Antigen Protein G (HLA-G) yang dapat melindungi trofoblas janin dari lisis oleh sel natural killer (NK) ibu. HLA-G juga akan mempermudah invasis el trofoblas kedalam jaringan desidua ibu. Pada plasenta ibu yang mengalami pre eklamsia terjadi ekspresi penurunan HLA-G yang akan mengakibatkan terhambatnya invasi trofoblas ke dalam desidua. Kemungkinan terjadi Immune-Maladaptation pada pre eklamsia.
4)    Teori Adaptasi kardiovaskular
Pada kehamilan normal pembuluh darah refrakter terhadap bahan vasopresor. Refrakter berarti pembuluh darah tidak peka terhadap rangsangan vasopresor atau dibutuhkan kadar vasopresor yang lebih tinggi untuk menimbulkan respon vasokonstriksi. Refrakter ini terjadi akibat adanya sintesis prostalglandin oleh sel endotel. Pada pre eklamsia terjadi kehilangan kemampuan refrakter terhadap bahan vasopresor sehingga pembuluh darah menjadi sangat peka terhadap bahan vasopresor sehingga pembuluh darah akan mengalami vasokonstriksi dan mengakibatkan hipertensi dalam kehamilan.
5)    Teori Genetik
Ada faktor keturunan dan familial dengan model gen tunggal. Genotype ibu lebih menentukan terjadinya hipertensi dalam kehamilan secara familial jika dibandingkan dengan genotype janin. Telah terbukti bahwa ibu yang mengalami pre eklamsia, 26% anak perempuannya akan mengalami pre eklamsia pula, sedangkan hanya 8% anak menantu mengalami pre eklamsia.
6)    Teori Defisiensi Gizi
Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa defisiensi gizi berperan dalam terjadinya hipertensi dalam kehamilan. Penelitian terakhir membuktikan bahwa konsumsi minyak ikan dapat mengurangi resiko pre eklamsia. Minyak ikan banyak mengandung asam lemak tidak jenuh yang dapat menghambat produksi tromboksan, menghambat aktivasi trombosit, dan mencegah vasokonstriksi pembuluh darah.
7)    Teori Stimulasi Inflamasi
Teori ini berdasarkan bahwa lepasnya debris trofoblas di dalam sirkulasi darah merupakan rangsangan utama terjadinya proses inflamasi. Berbeda dengan proses apoptosis pada pre eklamsia, dimana pada pre eklamsia terjadi peningkatan stres oksidatif sehingga produksi debris trofoblas dan nekrorik trofoblas juga meningkat. Keadaan ini mengakibatkan respon inflamasi yang besar juga. Respon inflamasi akan mengaktifasi sel endotel dan sel makrofag/granulosit yang lebih besar pula, sehingga terjadi reaksi inflamasi menimbulkan gejala – gejala pre eklamsia pada ibu.

  • Patofisiologi

Menurut Bobak (2004) adaptasi fisiologi normal pada kehamilan meliputi peningkatan volume plasma darah, vasodilatasi, penurunan resistensi vaskular sistemik (systemic vascular resistance [SVR]), peningkatan curah jantung dan penurunan tekanan osmotik koloid. Pada pre eklamsia, volume plasma yang beredar menurun, sehingga hemokonsentrasi dan peningkatan hematokrit maternal. Perubahan ini membuat perfusi organ maternal menurun, termasuk perfusi ke unit janin uteroplasenta. Vasospasme siklik lebih lanjut menurunkan perfusi organ dengan menghancurkan sel – sel darh merah, sehingga kapasitas oksigen maternal menurun. Vasopasme merupakan sebagian mekanisme dasar tanda dan gejala yang menyertai pre eklamsia. Vasopasme merupakan akibat peningkatan sensitivitas terhadap tekanan peredaran darah, seperti angiotensin II dan kemungkinan suatu ketidak seimbangan abtara prostasiklin prostaglandin dan tromboksan A2.  Selain kerusakan endotelil vasospasme arterial turut menyebabkan peningkatan permeabilitas kapiler. Keadaan ini meningkatkan edema dan lebih lanjut menurunkan volume intra vaskular, mempredisposisi pasien yang mengalami pre eklamsia mudah menderita edema paru.
Hubungan sistem imun dengan pre eklamsia menunjukkan bahwa faktor-faktor imunologi memainkan peran penting dalam perkembangan pre eklamsia. Keberadaan protein asing, plasenta, atau janin bisa membangkitkan respons imunologis lanjut. Teori ini di dukung oleh peningkatan insiden pre eklamsia-eklamsia pada ibu baru (pertama kali terpapar jaringan janin) dan pada ibu hamil dari pasangan yang baru (materi genetik yang berbeda).
Menurut Mochtar (2007) Pada preeklamsia terjadi spasme pembuluh darah disertai dengan retensi garam dan air. Pada biopsi ginjal ditemukan spasme hebat arteriola glomerolus. Pada beberapa kasus, lumen arteriola sedemikian sempitnya sehingga hanya dapat dilalui oleh satu sel darah merah. Jadi jika semua arteriola dalam tubuh mengalami spasme, maka tekanan darah akan naik, sebagai usaha untuk mengatasi kenaikan tekanan perifer agar oksigenasi jaringan dapat dicukupi. Sedangkan kenaikan berat badan dan edema yang disebabkan oleh penimbunan air yang berlebihan dalam ruangan intertisial belum diketahui penyebabnya, mungkin karena retensi air dan garam. Proteinuria dapat disebabkan oleh spasme arteriola sehingga terjadi perubahan glomerolus.
Menurut Rukiyah (2010) Vaskonstriksi merupakan dasar patogenesis PE-E. Vasokonstriksi menimbulkan peningkatan total perifer resisten dan menimbulkan hipertensi . adanya vasokonstriksi juga akan menimbulkan hipoksia pada endotel setempat, sehingga terjadi kerusakan endotel setempat, sehingga terjadi kerusakan endotel, kebocoran arteriol disertai perdarahan mikro pada tempat endotel. Selain itu Hubel 1989 yang dikutip oleh Rukiyah (2010) mengatakan bahwa adanya vasokonstriksi arteri spiralis akan menyebabkan terjadinya penurunan perfusi utero plasenta yang selanjutnya akan menimbulkan maladaptasi plasenta. Hipoksi/anoksia jaringan merupakan sumber reaksi hiperoksidase lemak, sedangkan prose hiperoksidase itu sendiri memerlukan peningkatan konsumsi oksigen, sehingga dengan demikian akan menggangu metabolisme di dalam sel peroksidase lemak adalah hasil proses oksidase lemak tak jenuh yang menghasilkan hiperoksidase lemak jenuh. Peroksidase lemak merupakan radikal bebas. Apabila keseimbangan antara peroksidase terganggu diman peroksidase dan oksidan lebih dominan maka akan timbul keadaan yang disebut stress oksidatif. Pada PE-E serum anti oksidan kadarnya menurun dan plasenta menjadi sumber terjadinya peroksidase lemak. Sedangkan pada wanita hamil normal serumnya mengandung transferin, ion tembaga dan sulfhidril yang berperan sebagai antioksidan yang cukup kuat. Peroksidase lemak beredar dalam aliran darh melalui ikatan lipoprotein. Peroksidase lemak ini akan sampai kesemua komponen sel yang dilewati termasuk sel-sel endotel tersebut. Rusaknya sel-sel endotel tersebut. Rusaknya sel – sel endotel akan mengakibatkan antara lain: adhesi dan agresi trombosit, gangguan permeabilitas lapisan endotel terhadap plasma, terlepasnya enzim lisosom, tromboksan dan serotinin sebagai akibat rusaknya trombosit, produksi prostasiklin dan tromboksan, terjadi hipoksia plasenta akibat konsumsi oksigen oleh peroksidase lemak.
Menurut Zweifel (1922) yang dikutip oleh Manuaba (2008) mengemukakan bahwa gejala gestosis tidak dapat diterangkan dengan satu faktor atau teori tetapi merupakan multifakor (teori yang menggambarkan berbagai manifestasi klinis yang kompleks yang oleh Zweifel disebut diseases of theory. Berbagai teori yang mencoba menerangkan gambaran klinis adalah genetic, teori imunologik, teori iskemia region uteroplasenter, teori kerusakan endotel pembuluh darah, teori radikal bebas adan kerusakan endotel, teori trombosit, dan teori diet yang diterangkan untuk kepentingan sehari-hari adalah teori diet dan teori yang diakui POGI. Menurut teori diet ibu hamil, kebutuhan kalsium ibu hamil cukup tinggi untuk pembentukan tulang dan organ lain janin, yaitu 2-2,5 g/hari. Bila terjadi kekurangan kalsium, kalsium ibu hamil akan dikuras untuk memenuhi kebutuhan sehingga terjadi pengeluaran kalsium dari jaringan otot. Minyak ikan mengandung banyak asam lemak tak jenuh sehingga dapat menghindari dan menghambat pembentukan trombokson dan mengurangi aktivitas trombosit. Oleh karena itu, minyak ikan dapat menurunkan kejadian pre eklamasia / eklamasia. Diduga bahwa minyak ikan mengandung kalsium. Fungsi kalsium dalam otot jantung menimbulkan peningkatan kontraksi sehingga dapat mempertahankan dan meningkatkan volume sekuncup jantung dan tekanan darah dapat dipertahankan. Kalsium pada otot pembuluh darah mengendalikan dan mengurangi kontraksi-kontraksi sehingga tekanan darah dapat dikendalikan bersama dengan vasokontriktor lainnya. Kekurangan kalsium yang terlalu lama menyebabkan dikeluarkannya kalsium dari jaringan otot sehingga menimbulkan manifestasi sebagai berikut : keluar dari otot jantung menimbulkan melemahnya kontraksi otot jantung dan menurunkan volume sekuncup sehingga aliran darah akan menurun; keluar dari otot pembuluh darah akan menimbulkan kontraksi, meningkatkan tekanan darah tinggi.
Dengan demikian ibu hamil memerlukan 2 – 2,5 g kalsium untuk mempertahankan konsentrasi dalam darah menjadi konstan, sehingga tidak akan menimbulkan peningkatan tekanan darah. Dalam praktik sehari-hari, bidan sudah dapat memberi kalsium pada ibu hamil yang merupakan otot polos dapat digambarkan sebagai berikut :
1)    Ikatan antara myosin dan aktin menjadi dasar terjadinya kontraksi dengan peranan kalsium.
2)    Bila terjadi penurunan konsentrasi kalsium akan terjadi reaksi yang berlawanan sehingga kontraksi meurun dan akibat terdapat penurunan volume sekuncup jantung dan seterusnya mengakibatkan iskemia region. Penurunan kalsium dapat terjadi karena masukan  yang kurang, kemampuan resorbi menurun kalsium mengalami keterasingan (terisolasi)
Hal ini menyebabkan mata rantai peranan terputus. Pemberian kalsium 22,5 g pada ibu hamil akan menurunkan kejadian pre eklampsia / eklampsia yang bermakna terutama melalui kerja pada miosis kinase rantai ringan. Dalam standar pendidikan obstetric dan ginekologi, POGI tersurat teori yang dianut “iskemia region uteroplasenter” dengan teori lainnya. Kejadian pre eklampsia/ eklampsia yaitu antara antepartus, intrapartus dan pasca partus.
Klasifikasi
1)    Pre-eklamsia ringan
Adalah timbulnya hipertensi disertai protein urin dan atau edema setelah umur kehamilan 20 minggu atau segera setelah kehamilan. Gejala ini dapat timbul sebelum umur kehamilan 20 minggu pada penyakit trofoblas (Rukiyah, 2010). Gejala klinis pre eklamsi ringan meliputi :
a)    Kenaikan tekanan darah sistol 30 mmHg atau lebih, diastol 15 mmHg atau lebih dari tekanan darah sebelum hamil pada kehamilan 20 minggu atau lebih atau sistol 140 mmHg sampai kurang 160 mmHg, diastol 90 mmHg sampai kurang 110 mmHg.
b)    Edema pada pretibia, dinding abdomen, lumbosakral, wajah atau tangan
c)    Proteinuria secara kuantitatif  lebih 0,3 gr/liter dalam 24 jam atau secara kualitatif positif 2.
d)    Tidak disertai gangguan fungsi organ
2)    Pre-eklamsia berat
Adalah suatu komplikasi kehamilan yang di tandai dengan timbulnya hipertensi 160/110 mmHg atu lebih disertai protein urin dan atau edema pada kehamilan 20 minggu atau lebih (Rukiyah, 2010).
Gejala dan tanda pre eklamsia berat :
a)   Tekanan darah sistolik >160 dan diastolik >110 mmHg atau lebih.
b)   Proteinuria > 3gr/liter/24 jam atau positif 3 atau positif 4
c)   Pemeriksaan kuatitatif bisa disertai dengan :
d)   Oliguria, yaitu jumlah urin kurang dari 500 cc per 24 jam.
e)   Adanya gangguan serebral, gangguan visus, dan rasa nyeri di epigastrium.
f)   Terdapat edema paru dan sianosis.
g)   Gangguan perkembangan intra uterin
h)   Trombosit < 100.000/mm3

Tulisan ini juga dapat dilihat pada blog saya yang lain ( klik )

Budaya Kehamilan dan Persalinan

6 Jan

DAFTAR ISI

Kata Pengantar           ……………………………………………………………………………………………..2

Daftar Isi                     ……………………………………………………………………………………………..3

Bab 1 Pendahuluan     ………………………………………………………………………………………………

 -latar belakang          ………………………………………………………………………………………………4

-rumusan masalah      ………………………………………………………………………………………………5

-tujuan                         ………………………………………………………………………………………………5

-sistematika penulisan……………………………………………………………………………………………….5

Bab 2 Pembahasan     ………………………………………………………………………………………………

-Aspek social budaya pada Trimester Kehamilan………………………………………………………6

-Aspek Sosial Budaya pada Persalinan……………………………………………………………………….9

Bab3 Penutup

-Kesimpulan                ………………………………………………………………………………………………11

-Saran                          ………………………………………………………………………………………………11

Daftar pustaka                        ………………………………………………………………………………………………12

BAB 1

PENDAHULUAN

A.LATAR BELAKANG

          Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.Citra budaya yang bersifat memaksa tersebut membekali anggota-anggotanya dengan pedoman mengenai perilaku yang layak dan menetapkan dunia makna dan nilai logis yang dapat dipinjam anggota-anggotanya yang paling bersahaja untuk memperoleh rasa bermartabat dan pertalian dengan hidup mereka.

Dengan demikian, budayalah yang menyediakan suatu kerangka yang koheren untuk mengorganisasikan aktivitas seseorang dan memungkinkannya meramalkan perilaku orang lain.

Kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak.

Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.

Aspek social budaya ini mencakup pada setiap trimester kehamilan dan persalinan yang mana pada zaman dahulu banyak mitos dan budaya dalam menanggapi hal ini. Oleh karena itu, kami akan membahas hal tersebut dalam makalah ini.

B.RUMUSAN MASALAH

1.      Bagaiman Aspek social budaya yang terjadi pada trimester kehamilan?

2.      Bagaimana Aspek sosial budaya yang terjadi pada persalinan ?

C.TUJUAN

          Untuk menambah wawasan kita dalam mempelajari aspek budaya social yang berkaitan dengan  trimester kehamilan serta persalinan.

D.SISTEMATIKA PENULISAN

          Bab 1 berisi pendahuluan yang berisi latar belakang, rumusan masalah, tujuan, sistematika penulisan

            Bab 2 berisi pembahasan

            Bab 3 berisi penutup yang berisi kesimpulan dan saran

BAB 2

PEMBAHASAN

ASPEK SOSIAL BUDAYA PADA  TRIMESTER KEHAMILAN

          Perawatan kehamilan merupakan salah satu factor yang amat perlu diperhatikan untuk mencegah terjadinya komplikasi dan kematian ketika persalinan, disamping itu juga untuk menjaga kesehatan janin dan menjaga pertumbuhan.Memahami perawatan kehamilan adalah penting untuk mengetahui dampak kesehatan bayi dan si ibu sendiri.fakta berbagai kalangan masyarakat di Indonesia masih banyak ibu ibu yang menganggap kehamilan sebagai hal yang biasa, hal alamiah dan kodrati.Mereka merasa tidak perlu memerikasakan dirinya secara rutin ke bidan ataupun dokter.Masih banyaknya ibu ibu yang kurang menyadari pentingnya pemeriksaan kehamilan menyebabkan tidak terdeteksinya factor factor resiko tinggi yang mungkin dialami oleh mereka.Resiko ini bari diketahui pada saat persalinan yang sering kali karena kasusnya sudah terlambat dapat membawa akibat fatal yaitu kematian.Hal ini kemungkinan disebabkan  oleh rendahnya tingkat pendidikan dan kurangnya informasi.Selain dari kurangnya pengetahuan akan pentingnya perawatan kehamilan, permasalhan permasalahan pada kehamilan dan persalinan dipengaruhi juga oleh factor nikah diusia muda yang masih banyak dijumpai didaerah pedesaan.Disamping itu dengan masih adanya preferensi terhadap jenis kelamin anak khususnya pada beberapa suku yang menyebabkan istri mengalami kehamilan berturut turut dalam jangka waktu yang relative pendek, menyebabkan ibu mengalami resiko tinggi fakta saat melahirkan.

            Permasalahan lain yang cukup besar pengaruhnya pada kehamilan adalah masalah gizi.Hal ini disebabkan karena adanya kepercayaan 2 dan pantangan pantangan terhadap beberapa makanan.Sementara kegiatan mereka sehari hari tidakk berkurang. Ditambah lagi dengan pantangan pantangan terhadap beberapa makanan yang sebetulnya sangat dibutuhkan oleh wanita hamil tentunya akan berdampak negative terhadap kesehatan ibu dan janin.Tidak heraan kalau anemia dan kurang gizi pada wanita hamil cukup tinggi terutama dipedessaan.Dikatakan pula bahwa penyebab utama dari tingginya angka anemia pada wanita hamil disebabkan karena kurangnya gizi yang dibutuhkan untuk pembentukan darah.Beberapa kepercayaan yang ada misalnya di jawa tengah, ada kepercayaan bahwa ibu hamil pantang makan telur karena akan mempersulit persalinan dan pantang makan daging karena akan meyebabkan perdarahan yang banyak.Sementara disalah satu daerah jawa barat ibu yang kehamilannya memasuki 8-9 bulan sengaja harus mengurangi makanannya agar bayi yang dikandungnya kecil dan mudah dilahirkan.Dimasyarakat betawi berlaku pantangan makan ikan asin, ikan laut, udang dan kepiting karena dapat menyebabkan ASI menjadi asin.Contoh lain didaerah Subang pantang makan dengan piring yang besarkarena khawatir bayinya akan besar sehingga mempersulit persalinan.Dan memangselain ibunya kurang gizi berat badan bayi yang dilahirkan juga rendah.Tentunya hal ini sangat mempengaruhi daya tahan dan kesehatan si bayi.Selain itu larangan untuk memakan buah buahan seperti pisang, nanas, ketimun dll bagi wanita hamil juga masih dianut oleh beberapa kalangan masyarakat terutama masyarakat didaerah pedesaan.

            Didaerah pedesaan masih banyak ibu hamil yang mempercayai dukun beranak untuk menolong persalinan yang biasanya dilakukan dirumah .Data survey kesehatan Rumah Tangga tahun 1992 menunjukkan bahwa 65% persalinan ditolong oleh dukun beranak.Bebrapa penelitian yang pernah dilakukan mengungkapkan bahwa masih terdapat praktek praktek  persalinan oleh dukun yang membahayakan si ibu.Penelitian iskandar dkk menunjukkan beberapa tindakan dan praktek  yang membawa resiko infeksi seperto “ngolesi”(membasahi vagina dengan minyak kelapa untuk memperlancar persalinan), “kodok” ( memasukkan tangan ke vagina dan uterus untuk mengeluarkan placenta) atau “nyanda” ( setelah persalinan, ibu duduk dengan posisi bersandar dan kaki diluruskan kedepan selama bejam jam yang dapat menyebabkan perdarahan dan pembengkakan).

            Pemilihan dukun beranak sebagai pendorong persalinan pada dasarnya disebabkan karena beberapa alasan antara lain dikenal secara dekat , biaya murah, mengerti dan dapat memabantu upacara adat yang berkaitan dengan kelahiran anak serta membawa ibu dan bayi sampai 40 hari.Disamping itu juga masih adanya keterbatasan jangkauan pelayanan kesehatan yang ada.Walaupun sudah banyak dukun beranak yang dilatih namun praktek praktek tradisional tertentu masih dilakukan.Interaksi antara kondisi kesehatan ibu hamil dengan kemampuan penolong persalinan sangat menentukan persalinan yaitu kematian atau bertahan hidup.Secara medis penyebab klasik kematian ibu akibat melahirkan adalah perdarahan , infeksi, eksklamsia(keracunan kehamilan).

            Kondisi kondisi tersebut bila tidak ditangani secara tepat dan professional  dapat berakibat fatal bagi ibu dalam proses persalinan.Namun kefatalan ini sering terjadi tidak hanya karena penanganan yang kurang baik tepat tetapi juga karena ada factor keterlambatan pengambilan keputusan dalam keluarga.Umunya terutama didaerah pedesaan keputusan terhadap perawatan medis apa yang dipilih harus dengan persetujuan kerabat yang lebih tua atau keputusan berada ditangan suami yang seringkali panic melihat keadaan krisis yang terjadi.Kepanikan dan ketidaktahuan akan gejala gejala tertentu saat persalinan dapat menghambat tindakan yang seharusnya dilakukan dengan cepat.Tidak jarang pula nasehat nasehat yang diberikan oleh teman atau tetangga mempengaruhi keputusan yang diambil.

            Keadaan ini sering kali pula diperberat oleh factor geografis dimana jarak rumah si ibu dengan tempat pelayanan kesehatan cukup jauh, tidak tersedianya transportasi atau oleh factor kendala ekonomi dimana ada anggapan bahwa membawa si ibu kerumah sakit akan memakan biaya yang mahal. Selain dari  faktor keterlambatan dalam pengambilan keputusan,faktor giografis dan kendala ekonomi,keterlambatan mencari pertolongan disebabkan juga oleh adanya suatu keyakinan dan sikap pasrah dari masyarakat bahwa segala sesuatu yang terjadi merupakan takdir yang tak dapat dihindarkan. Selain pada masa hamil,pantangan-pantangan atau anjuran masih berlaku juga pada masa pasca persalinan. Pantangan ataupun anjuraan ini biasanya berkaitan dengan proses pemulihan kondisi fisik misalnya,ada makanan  tertentu yang sebaiknya di konsumsi untuk memperbanyak produksi  ASI, ada pula makanan tertentu yang dilarang karena dianggap dapat mempengaruhi kesehatan bayi. Secara tradisional ,ada praktek-praktek yang dilakukan oleh dukun beranak untuk mengembalikan kondisi fisik dan kesehatan si ibu. Misalnya mengurut perut yang bertujuan untuk mengembalikan rahim ke posisi semula; memasukkan ramuan-ramuan seperti daun-daunan kedalam vagina dengan maksud untuk membersihkan darah dan cairan yang keluar karena proses persalinan; atau memberi jamu tertentu untuk memperkuat tubuh.

ASPEK SOSIAL BUDAYA PADA PERSALINAN

Ada suatu kepercayaan yang mengatakan minum rendaman air rumput Fatimah akan merangsang mulas. Memang,rumput Fatimah bias membuat mulas pada ibu hamil,tapi apa kandungannya belum diteliti secara medis. Jadi,harus dikonsultasikan dulu ke dokter sebelum meminumnya.soalnya,rumput ini hanya boleh diminum pada pembukaannya sudah mencapai 3-5 cm,letak kepala bayi sudah masuk panggul,mulut rahim sudah lembek atau tipis,dan posisi ubun-ubun kecilnya normal. Jika letak ari-arinya di bawah atau  bayinya sungsang,tak boleh minum rumput ini karena sangat bahaya. Tarlebih jika pembukaannya belum ada, tapi si ibu justru dirangsang mulas pakai rumput ini,bias-bisa janinnya malah naik ke atas dan membuat sesak nafas si ibu. Mau tak mau,akhirnya dilakukan jalan operasi.

Keluarnya lendir semacam keputihan yang agak banyak menjelang persalinan,akan membantu melicinkan saluran kelahiran hingga bayi lebih mudah keluar. Keluarnya cairan keputihan pada usia hamil tua justru tak normal,apalagi disertai gatal,bau,dan berwarna. Jika terjadi,segera konsultasikan ke dokter. Ingat,bayi akan keluar lewat saluran lahir. Jika vagina terenfeksi,bias mengakibatkan peradangan selaput mata pada bayi. Harus diketahui pula, yang membuat persalinan lancer bukan keputihan,melainkan air ketuban. Itulah mengapa ,bila air ketuban pecah  duluan,persalinan jadi seret.

Minum minyak kelapa memudahkan persalinan. Minyak kelapa,memang konotasinya bikin lancer dan licin.namun dalam dunia kedokteran,minyak tak ada gunanya sama sekali dalam melancarkan keluarnya sang janin. Mungkin secara psikologis,ibu hamil meyakini,dengan minum dua sendok minyak kelapa dapat memperlancar persalinannya.

Minum madu dan telur dapat menambah tenaga untuk persalinan madu tidak boleh sembarangan dikonsumsi ibu hamil. Jika BB-nya cukup,sebaiknya jangan minum madu karena  bias mengakibatkan overweight.bukankah madu termasuk karbonhidrat yang paling,tinggi kalorinya. Jadi,madu boleh diminum hanya jika BB-nya kurang. Begitu BB naik dari batas yang di tentukan,sebaiknya segera dihentikan.akan halnya telur tak masalah,karena mengandung protein yang juga menambah kalori.

Makan duren,tape,dan nanas bisa membahayakan persalinan.ini benar karena bisa mengakibatkan pendarahan atau keguguran. Duren mengandung alkohol,jadi panas ke tubuh.begitu juga tape. Untuk masakkan yang menggunakan arak ,sebaiknya dihindari. Buah nanas juga,karena bisa mengakibatkan  keguguran.

Makan daun kemangi membuat ari-ari lengket,hingga mempersulit persalinan.yang membuat lengket ari-ari bukan daun kemangi,melainkan ibu yang pernah mengalami dua kali kuret atau punya banyak anak,missal empat anak. Ari-ari lengket bisa berakibat fatal karena kandungan harus diangkat. Ibu yang pernah mengalami kuret sebaiknya melakukan persalinan di RS besar.hingga,bila terjadi sesuatu dapat ditangani segera.

Sebenarnya,kelancaran persalinan sangat tergantung faktor mental dan fisik si ibu. Faktor  fisik berkaitan dengan bentuk panggul yang normal dan seimbang dengan besar bayi. Sedangkan faktor mental berhubungan dengan psikologis ibu,terutama kesiapannya dalam melahirkan. Bila ia takut dan cemas,bisa saja persalinannya jadi tidak lancar hingga harus dioprasi. Ibu dengan mental yang siap bisa mengurangi rasa sakit yang terjadi selama persalinan, faktor lain yang juga harus diperhatikan: riwayat kesehatan ibu,apakah pernah menderita diabetes,hipertensi atau sakit lainnya; gizi ibu selama hamil,apakah mencukupi atau tidak; dan lingkungan sekitar, apakah men-support atau tidak karena ada kaitannya dengan emosi ibu. Ibu hamil tak boleh cemas karena akan berpengaruh pada bayinya. Bahkan,berdasarkan penelitian,ibu yang cemas saat hamil bisa melahirkan anak hiperaktif,sulit konsentrasi dalam belajar,kemampuan komunikasi yang kurang,dan tidak bisa kerja sama.

Bab 3

PENUTUP

KESIMPULAN

-Permasalahan lain yang cukup besar pengaruhnya pada kehamilan adalah masalah gizi yang dikarenakan adanya kepercayaan 2 dan pantangan pantangan terhadap beberapa makanan.

-Pada zaman dahulu persalinan ditolong dengan seorang dukun sehingga banyak resiko yang datang pada seorang ibu hamil.

-Minum minyak kelapa memudahkan persalinan karena Minyak kelapa, memang konotasinya bikin lancer dan licin, namun dalam dunia kedokteran, minyak tak ada gunanya sama sekali dalam melancarkan keluarnya sang janin.

-banyak pantangan pantangan oleh budaya orang dahulu yang merupakan mitos yang berbahaya pada ibu hamil jika melanggar budaya tersebut.

SARAN

          –budaya yang ada harus  dilihat apakah baik atau tidak untuk kesehatan ibu hamil dan jika kita lihat dari akal berdasarkan ilmu yang kita dapat budaya tersebut tidak baik, maka tidak boleh diikuti lagi.

-Pergunakanlah makalah ini dengan baik untuk mata kuliah ilmu social budaya agar dapat menambah sedikit wawasan para pembaca.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu (2003).ilmu social dasar.Jakarta:Penerbit PT Rineka Cipta.

Budiningsih, Asri (2004).Pembelajaran Moral.Jakarta:Penerbit PT Rineka Cipta.

Sulaiman, Munandar (2005).Ilmu Budaya Dasar.Bandung:PT Refika Aditama.

http://www.indonesiamedia.com/budaya-0504-bhinneka.htm

 

Literatur : DOWNLOAD DI SINI

Tulisan ini dapat juga dibaca pada blog saya yang lain (klik)

PUISI IBU

6 Jan

Dalam sujudku,,,Kusambung Doa,

dalam baringMu ku teringat akan jasaMu,,,

Dalam setiap tetes peluhMu,maknai sebuah artiperjuangan,,,,

Dalam setiap jengkal langkahMu maknai sebuaharti pengorbanan,,,

Kerasnya hidup tak surutkan niatMu tuk terus berjuang, demi aku anakMu,,,

Kini Kau terbaring lemah,namun masih saja sempat tersenyum seakan tak hiraukan rasa sakitMu,,,,

Arti senyumMu aku tahu Emak,,,,

Sudahlah emak,jangan Kau tutupi rasa sakit itu,,,,

Air mata ini tak sanggup aku bendung,,,,ku peluk Emak dan berbisik,,,,

Emak harus Sembuh,,,,Aku anakMu kan terus berjuang tuk kesembuhanMu,,,,

Walaupun ku tahu jasaMu tak kan pernah terbalaskan…

Karya : Dyar Deni

 

Tulisan ini dapat juga dibaca pada blog saya yang lain (klik)

MAKALAH B.INDONESIA

6 Jan
TUGAS MATA KULIAH BAHASA INDONESIA
SISTEMATIKA PENULISAN SURAT RESMI
 OLEH :
RAHMITA ERDILA
1A GIZI
DOSEN PEMBIMBING:UPIT YULIANTI D.N.,S.Pd.,M.Pd
PRODI D-III GIZI
POLTEKKES KEMENKES RI PADANG
 2012
KATA PENGANTAR
            Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT,atas berkat rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Sistematika Penulisan Surat Resmi “.
            Dalam penulisan makalah ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu Upit Yulianti D.N.,S.Pd.,M.Pd selaku dosen pembimbing mata kuliah bahasa Indonesia yang telah memberikan pengarahan dan dorongan dalam menyelesaikan makalah ini.
            Akhirnya penulis  berharap semoga Allah SWT memberikan balasan yang setimpal kepada pihak yang telah memberikan bantuan,dan menjadikan semua bantuan menjadi ibadah,Amin Ya Rabbal ‘Alamin.Dalam penulisan makalah ini penulis merasa masih banyak terdapat kekurangan,baik dari teknis penulisan maupun materi,mengingat akan kemampuan yang dimiliki penulis.Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan makalah ini.
Padang, 31 Desember 2012
                             Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR………………………………………………………  i
DAFTAR ISI………………………………………………………………… ii
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang…………………………………………………………………………. 1     
B.     Rumusan Masalah …………………………………………………………………….. 1
C.     Tujuan Penulisan……………………………………………………………………….. 1
D.    Manfaat Penulisan………………………………………………………………………2
BAB II PEMBAHASAN
A.    Pengertian dari surat resmi…………………………………………………………. 3
B.     Persyaratan dari surat resmi………………………………………………………… 3
C.     Sistematika penulisan surat resmi………………………………………………… 4
BAB III PENUTUP
A.    Kesimpulan……………………………………………………………………………….11
B.     Saran………………………………………………………………………………………..11
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
            Dalam kehidupan sehari-hari kita selalu melihat seseorang mengirimkan surat kepada orang yang dikehendakinya. Surat merupakan sebuah alat atau media komunikasi yang berupa tulisan yang berisi informasi, pesan, pernyataan, atau tanggapan sesuai dengan keinginan penulis.
            Pada saat seseorang siswa mengirimkan surat kepada gurunya yang menyatakan bahwa dirinya tidak bisa menghadiri atau mengikuti pelajaran yang dilangsungkan pada hari itu berhubungan karena kesehatannya terganggu. Berdasarkan ilustrasi tersebut dapat dikatakan bahwa surat dapat berfungsi sebagai alat komunikasi atau penyampai informasi dari siswa kepada gurunya. Surat juga berfungsi sebagai wakil penulis dalam hal ini, penulis tidak perlu langsung bertatap muka dengan orang yang akan dituju untuk menyampaikan informasi, melainkan diwakili oleh surat.
            Terkadang kita tidak mengerti bagaimana hakikat dan jenis surat serta bahasa yang digunakan dalam membuat surat. Untuk itu dalam makalah ini saya ingin memaparkan bagaimana cara penulisan surat resmi yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku, maka saya menyusun makalah ini dengan judul “Sistematika Penulisan Surat Resmi“.
B.     Rumusan Masalah
Adapun rumusan makalah ini adalah:
1.      Apa pengertian dari surat resmi ?
2.      Apa persyaratan dari surat resmi ?
3.      Bagaimana sistematika penulisan surat resmi ?
C.    Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari makalah ini adalah:
1.      Untuk mengetahui pengertian dari surat resmi
2.      Untuk mengetahui persyaratan dari surat resmi
3.      Untuk mengetahui sistematika penulisan surat resmi
D.    Manfaat Penulisan
Adapun manfaat dari makalah ini adalah:
1.      Dapat menambah pengetahuan dan wawasan mengenai surat resmi
2.      Dapat digunakan sebagai referensi dalam membuat surat resmi
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Surat Resmi
Surat resmi ialah surat yang isinya meliputi masalah dinas yang menyangkut administrasi pemerintah (Arifin, 1987:7). Menurut Sudarsa, dkk. (1992:4), surat dinas atau surat resmi ialah segala komunikasi tertulis yang menyangkut kepentingan tugas dan kegiatan dinas instansi. Surat dinas hanya dibuat oleh instansi pemerintah dan dapat dikirimkan kepada semua pihak yang berhubungan dengan instansi tersebut.
B.     Persyaratan Surat Resmi
Surat resmi yang baik harus memenuhi syarat-syarat tertentu.       Berdasarkan pendapat Semi (1989) dan Sudarsa (1992), dapat dikemukakan bahwa untuk menulis surat yang baik, penulis surat harus memperhatikan hal -hal sebagai berikut :
1.      Surat resmi harus memiliki maksud yang jelas. Setiap surat yang ditulis harus jelas bagi yang membaca.
2.      Surat resmi harus memiliki bahasa yang lugas. Bahasa yang digunakan tidak berbelit-belit. Setiap kata yang digunakan mempunyai fungsi tertentu, tidak ada kata yang berlebih atau tidak berfungsi.
3.      Surat resmi harus disusun dengan singkat. Supaya tidak menggunakan kertas yang terlalu banyak dan tidak menggunakan waktu yang lama untuk membacanya.
4.      Surat resmi harus memuat informasi yang lengkap. Informasi yang dituliskan harus informasi yang lengkap dan tepat.
5.      Surat resmi harus menggunakan komunikasi yang sopan dan simpatik. Dapat memberikan kesan yang menarik dan positif kepada pembaca sehingga pembaca termotivasi untuk menanggapinya dengan baik.
6.      Surat resmi harus memiliki format yang wajar dan menarik. Artinya format yang dipilih, ukuran kertas, margin (jarak tepi kertas), susunan alamat, sehingga terlihat sebagai suatu surat yang terencana dan nyaman untuk dilihat.
Adapun ciri-ciri dari surat resmi yaitu :
a.       Menggunakan kop atau kepala surat, apabila surat tersebut dikeluarkan oleh organisasi tertentu
b.      Terdapat Nomor surat,lampiran dan perihal
c.       Menggunakan salam pembuka dan salam penutup yang lazim digunakan
d.      Menggunakan bahasa resmi yang sesuai dengan EYD atau aturan bahasa yang baik
e.       Menyertakan stempel atau cap dari lembaga resmi
C.    Sistematika Penulisan Surat Resmi
Dalam sistematika penulisan surat resmi ada beberapa bagian, bagian  surat tersebut terdiri atas:
1.      Kepala surat
2.      Tanggal surat
3.      Nomor, lampiran, hal atau perihal
4.      Alamat tujuan (alamat dalam )
5.      Salam pembuka
6.      Isi surat
7.      Salam penutup
8.      Pengirim surat (nama dan tanda tangan )
9.      Tembusan
10.  Inisial (kode singkatan nama)
Kesepuluh bagian surat itu akan dijelaskan satu per satu berikut ini :
1.      Penulisan kepala surat
Kepala surat adalah bagian surat yang dicantumkan pada bagian atas kertas surat untuk menunjukkan ciri dari pengenal (identitas) instansi pengirim surat. Kepala surat yang lengkap terdiri atas nama instansi, alamat lengkap, nomor telepon, nomor kotak pos, alamat kawat, lambing atau logo, dan alamat email. Nama instansi ditulis dengan huruf kapital alamat instansi, termasuk di dalamnya telepon, kotak pos, dan alamat kawat (jika ada) ditulis dengan huruf awal kata. Nomor kode pos ditulis setelah nama kota tempat instansi itu berada.
Contoh:
DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
Pusat pembinaan dan pengembangan bahasa
Jalan Daksinapati Barat IV, Rawamangun
Jakarta 13220
Kotak Pos 2625 Telepon 4896558, 4894564
Kepala surat dapat pula seluruhnya ditulis dengan huruf kapital,
DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
PUSAT PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN BAHASA
JALAN DAKSINAPATI BARAT IV, RAWAMANGUN
JAKARTA 13220
KOTAK POS 2625 TELEPON 4896558, 4894564
Dalam penulisan kepala surat hendaklah diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a.       Nama instansi jangan disingkat, misalnya Biro Diklat,  Depdikbud, tetapi Biro Pendidikan dan Pelatihan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
b.      Kata jalan jangan disingkat menjadi Jln. atau Jl, tetapi Jalan.
c.       Kata telepon hendaknya ditulis dengan cermat , yaitu Telepon, bukan Tilpun atauTelpon dan jangan disingkat menjadi Tlp. atau Telp.
d.      Kata kotak pos hendaknya jangan disingkat K. Pos atau Kotpos. Demikian pula, jangan digunakan P.O. Box atau Post Office Box.
e.       Kata alamat kawat jangan digunakan Cable Address tapi Alamat Kawat.
f.       Kata telepon dan kotak pos diikuti oleh nomor tanpa diantara tanda titik dua.
Sedangkan nomor-nomor yang mengikutinya tidak diberi tanda titik.
Contoh:
a)      Telepon: 489.655.8
b)      Kotak Pos: 265.5
 Seharusnya ditulis seperti berikut ini:
a)      Telepon 4896558
b)      Kotak Pos 2655
2.      Penulisan Tanggal Surat
Tanggal surat adalah bagian yang menunjukkan hari, bulan, dan tahun ditulisnya surat tersebut. Tanggal surat ditulis secara lengkap yaitu tanggal ditulis dengan angka, bulan ditulis dengan huruf, dan tahun ditulis dengan angka. Setelah angka tidak boleh diikuti oleh tanda baca apapun, sebelum tanggal tidak dicantumkan nama kota karena nama kota itu sudah tercantum pada kepala surat. Nama bulan yang ditulis dengan huruf tidak boleh disingkat, misalnya Januari, Februari, Agustus, atau November. Bukan Jan, Agt, atau Nov.
 Contoh penulisan tanggal surat yang benar : 22 Maret 2003
3.      Penulisan Nomor, Lampiran, dan Hal
Kata nomor, lampiran dan hal ditulis dengan diawali huruf kapital, Nomor, Lampiran, dan hal diikuti oleh tanda titik dua yang ditulis secara estetik ke bawah sesuai dengan panjang pendeknya ketiga kata itu.Penulisan kata Nomor dan Lampiran yang dapat disingkat menjadi No. Dan Lamp, harus taat asas. Jika kata nomor ditulis lengkap maka kata lampiran pun harus ditulis lengkap. Jika kata Nomor disingkat maka kata lampiran pun harus disingkat.Kata nomor diikuti oleh nomor berdasarkan nomor urut surat dengan kode yang berlaku pada instansi pengirim surat.Nomor surat dan kode yang dibatasi oleh garis miring ditulis rapat pada spasi dan tidak diakhiri tanda titik atau tanda hubung.
Penulisan nomor dan kode surat yang benar:
Nomor:110/U/PPHBI/2003
Kata lampiran ditulis di bawah nomor jika ada yang dilampirkan pada surat. Jika tidak ada yang dilampirkan, kata lampiran tidak perlu ditulis.Kata lampiran atau lamp, diikuti tanda titik dua yang disertai jumlah barang yang dilampirkan. Jumlah barang yang ditulis dengan huruf, tidak dengan angka dan tidak diakhiri dangan tanda baca lain. Pada awal kata yang menyatakan jumlah ditulis dengan huruf kapital.
Contoh penulisan lampiran yang dianjurkan:
Lampiran: satu berkas
Kata hal diikuti tanda titik dua disertai pokok surat yang diawali dengan huruf kapital tanpa diberi garis bawah dan tidak diakhiri tanda titik atau tanda baca lain. Pokok surat hendaknyadapat menggambarkan pesan yang ada dalam isi surat.
Contoh:
Hal: Permohonan tenaga pengajar
Hal: Penyeragaman bentuk surat
4.      Penulisan Alamat Surat
Dalam penulisan alamat surat terdapat dua macam bentuk. Bentuk pertama adalah alamat yang ditulis di sebelah kanan atas di bawah tanggal surat dan bentuk kedua adalah alamat yang ditulis di sebelah kiri atas di bawah bagian hal atau sebelum salam pembuka. Untuk penulisan alamat surat perlu diperhatikan hal berikut:
a.       penulisan nama penerima harus cermat dan lengkap.
b.      Nama diri penerima diawali huruf kapital pada setiap unsurnya,  bukan menggunakan huruf kapital seluruhnya.
c.       Penulisan alamat penerima surat juga harus cermat dan lengkap.
d.      Kata pada awal nama penerima, kata itu hendaknya ditulis penuh, yaitu Ibu, Bapak, Saudara dengan huruf awal huruf kapital dan tanpa tanda titik atau tanda baca apa pun pada akhir kata itu.
e.       Jika nama orang yang dituju bergelar akademik sebelum namanya, seperti Dr. dr. Ir. atau Drs. atau memiliki pangkat seperti kapten atau kolonel, maka kata sapaan Ibu, Bapak, dan Sdr. tidak digunakan.
f.       Kata jalan pada alamat surat tidak disingkat, tetapi ditulis penuh, yaitu Jalan, dengan huruf awal huruf kapital tanpa ada titik atau titik dua pada akhir kata itu. Namun jalan atau gang, nomor, RT, dan RW ditulis lengkap dengan huruf awal huruf kapital pada setiap unsur alamat.
Contoh penulisan alamat surat :
Yth. Bapak Sukoco
Kepala Biro Tata Usaha
Departemen A
Jalan Sarlintan Raya 17
Jakarta
5.      Penulisan Salam Pembuka
Salam pembuka lazim ditulis di sebelah kiri di bawah alamat surat, di atas kalimat pembuka isi surat. Pada akhir salam pembuka dibubuhkan tanda koma dan huruf kapital hanya dipakai pada kata awal ungkapan salam.
            Contoh penulisan salam pembuka :
Dengan hormat,
Salam sejahtera,
6.      Penulisan Isi Surat
Isi surat umumnya hanya terdiri dari atas rujukan, tujuan, dan harapan. Ketiga hal ini lazim diungkapakan dalam tiga paragraf. Rujukan atau pengantar isi surat dibuat dalam paragraf pembuka.Tujuan yang betolak dari masalah yang disampaikan dibuat dalam paragraf isi. Harapan termasuk penegasan penulis dibuat dalam paragraf penutup.
7.      Penulisan Salam Penutup
Salam penutup merupakan pernyataan rasa hormat pengirim surat terhadap penerima surat. Pada akhir salam penutup dibubuhkan tanda koma dan huruf kapital hanya dipakai pada kata awal ungkapan salam.
                        Contoh penulisan salam penutup :
                        Hormat saya,
Hormat kami,
Wasalam,
Salam takzim,
8.      Penulisan Nama Pengirim
Nama pengirim surat ditulis dibawah tanda tangan. Tanda tangan dibutuhkan sebagai keabsahan dari surat resmi. Dalam penulisan nama pengirim perlu diperhatikan hal berikut:
a.       Penulisan nama tidak perlu menggunakan huruf kapital seluruhnya, tetapi menggunakan huruf awal kapital pada setiap unsur nama.
b.      Nama tidak perlu ditulis di dalam kurung, tidak perlu bergaris bawah dan tidak perlu diakhiri dengan tanda titik. Nama jabatan dapat dicantumkan di bawah nama pengirim.
Contoh:
Drs. Doni Susanto,
NIP 130130130
9.      Penulisan Tembusan Surat
Tembusan hanya dicantumkan apabila surat itu memang memerlukan tembusan. Kata tembusan yang ditulis dengan huruf awal huruf kapital (Tembusan) diletakkan di sebelah kiri pada bagian kaki surat, lurus dengan bagian nomor dan hal, serta sejajar dengan nama pengirim surat. Tulisan Tembusan diikuti tanda titik dua, tanpa digaris bawahi. Pihak yang diberi tembusan hendaklah nama jabatan atau nama orang dan bukan nama kantor atau instansi.   Di belakang nama yang diberi tembusan tidak perlu diberi ungkapan untuk perhatian, untuk menjadi perhatian, sebagai laporan, atau ungkapan lain yang mengikat.   Dalam tembusan tidak perlu dicantumkan tulisan arsip karena setiap surat dinas itu harus memiliki arsip.
Contoh penulisan tembusan :
            Kepala bagian tata usaha
10.  Penulisan Inisial
Inisial (sandi) di tempatkan pada bagian paling bawah sebelah kiri di bawah tembusan(kalau ada). Inisial merupakan tanda pengenal yang berupa singkatan nama pengonsep dan pengetik surat. Inisial berguna untuk keperluan internal di lingkungan pengenal surat untuk mengetahui siapa pengonsep dan pengetik surat.
Contoh penulisan inisial :
HA singkatan nama pengetik: Hidayah Asmuni.
SS singkatan nama pengetik: Sandi Susanty.
RE singkatan nama pengetik : Rahmita Erdila.
PM singkatan nama pengetik : Putri Mardawita.
NU singkatan nama pengetik : Niftah Utami.
BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
          Dalam pembuatan surat resmi sebaiknya harus memenuhi kaedah-kaedah yang berlaku dalam pembuatan surat resmi dan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Surat merupakan sebuah alat atau media komunikasi yang berupa tulisan yang berisi informasi, pesan, pernyataan, atau tanggapan sesuai dengan keinginan penulis. Surat dinas atau surat resmi merupakan segala komunikasi tertulis yang menyangkut kepentingan tugas dan kegiatan dinas instansi. Surat dinas hanya dibuat oleh instansi pemerintah dan dapat dikirimkan kepada semua pihak yang berhubungan dengan instansi tersebut.
B.     Saran
Dalam makalah ini, semoga pembaca dapat menggunakan informasinya sebagai bahan referensi untuk menambah wawasan dan ilmu pengetahuan mengenai sistematika penulisan surat resmi yang baik dan benar.
DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Syamsir. 1987. Pedoman Penulisan Surat menyurat Indonesia. Padang:  Angkasa Raya.
Ermanto dan Emidar.2010.Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi.Padang:UNP Press.SS
Nurdin, Ade. 2005. Intisari Bahasa dan Sastra Indonesia. Bandung: Pustaka Setia.

Sudarsa, dkk. 1992. Surat Menyurat dalam Bahasa indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Tulisan ini dapat juga dibaca pada blog saya yang lain (klik)

Preeklamsia Kehamilan

6 Jan

PREDIKSI PREEKLAMPSIA
PADA KEHAMILAN TRIMESTER I – II

Tutor:
Prof. Dr. I. OETAMA MARSIS, Sp.OG

Oleh :
I R W A N D I (05-009)

BAGIAN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI
PERIODE 12 JULI 2010 – 4 SEPTEMBER 2010
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA
JAKARTA
Prediksi Preeklampsia Pada Kehamilan Trimester I-II

I R W A N D I
05-009
Departement Obstetri dan Ginekologi
Periode 12 juli 2010 – 4 September 2010
Fakultas Kedokteran UKI
Jakarta.

ABSTRAK

Preeklampsia (PE) adalah sindrom yang merupakan komplikasi 3-5% dari seluruh kehamilan dan bertanggung jawab terhadap tingginya tingkat angka kesakitan dan kematian ibu dan janin. Cara-cara tes untuk memprediksi deteksi dini kehamilan yang dapat berkembang menjadi preeklampsia tetap belum ada yang memuaskan. Meskipun tidak ada kemajuan besar yang telah dicapai dalam pengobatan PE, kemampuan kita untuk mengidentifikasi perempuan dengan resiko tinggi telah meningkat pesat selama beberapa dekade terakhir. Sangat diperlukan cara deteksi dini atau prediksi PE dengan sensitivitas tinggi dan dengan petanda spesifik. Bermacam-macam cara yang digunakan sebagai prediksi untuk preeklampsia diantaranya adalah dengan arteri uterina, arteri spiralis, color Doppler, volume plasenta, HCG, PAPP-A, ADAM12, faktor angiogenik, sEng, PP 13, P-selektin, dll. Saat ini, tidak ada tes klinis tunggal yang berguna untuk prediksi PE. Oleh sebab itu direkomendasikan untuk menggunakan tes skrining gabungan/kombinasi berbagai cara untuk memprediksi preeklampsia. Jurnal ini berfokus pada prediksi preeklampsia pada kehamilan berdasarkan model prediktif multifaktorial, untuk prediksi onset awal dan akhir PE.

Kata Kunci: prediksi, preeklampsia, arteri uterine, arteri spiralis, color Doppler, volume plasenta, HCG, PAPP-A, ADAM12, factor angiogenik, sEng, PP 13, P-selektin, skrining

ABSTRACT

Pre-eclampsia (PE) is a syndrome that complicates 3 to 5% of all pregnancies and is responsible for a high rate of maternal and fetal morbidity and mortality. Proposed predicting tests for early detection of pregnant women destined to develop pre-eclampsia remain unsatisfactory. Although no major progress has been achieved in the treatment of PE, our ability to identify women at highrisk has increased considerably during the past decade. Early detection or prediction of PE with highly sensitive and specific markers is desirable. Multi models used to prediction of preelampsia for example is uterine artery, spiral artery, color Doppler, placental volume, HCG, PAPP-A, ADAM12, angiogenic factor, sEng, PP 13, P-selectin, etc. This journal focuses on prediction of preeclampsia in pregnancy based on multifactorial predictive model, for the prediction of late and early PE. At present, there is no single screening test clinically useful for the prediction of preeclampsia. Although the observed positive and negative likelihood ratios may recommend its inclusion in a combined screening test for preeclampsia. This jounal focuses on prediction of preeclampsia based on mutifactorial predictif models, for prediction early and late onset preeclampsia.

Key Word: Prediction, preeclampsia, uterine artery, spiral artery, color Doppler, placental volume, HCG, PAPP-A, ADAM12, angiogenic factor, sEng, PP 13, P-selectin, screening

PENDAHULUAN

Preeklampsia (PE) adalah sindrom yang merupakan komplikasi 3-5% dari seluruh kehamilan dan bertanggung jawab terhadap tingginya tingkat morbiditas dan kematian ibu dan janin (Sibai et al., 2005). Preeklampsia (PE) adalah sindrom heterogen yang spesifik pada kehamilan yang didefinisikan sebagai permulaan baru-atau peningkatan secara tiba-tiba-hipertensi dan proteinuria setelah kehamilan 20 minggu. Umumnya diterima bahwa PE adalah gangguan dua-tahap yaitu yang pertama, sebuah gangguan awal pembentukan plasenta dan, kedua yaitu pelepasan faktor angiogenik plasenta yang menyebabkan disfungsi endotel. Ini menunjukkan bahwa meskipun manifestasi sindrom klinis tampak pada usia kehamilan lebih dari 20 minggu, substrat patogenik telah telah dibuat pada semester pertama kehamilan (LaMarca et al., 2008).
PE berpengaruhi pada sekitar 2-8% dari kehamilan dan merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas janin dan ibu di seluruh dunia, terutama dalam kasus pada onset awal kehamilan (≤ 34 minggu) (Sibai et al., 2003). Beberapa faktor yang diketahui, seperti PE pada kehamilan sebelumnya, atau hipertensi kronis, berhubungan dengan peningkatan risiko perkembangan preeklampsia (PE). Saat ini, tidak ada tes klinis tunggal yang berguna untuk prediksi PE (Conde-Agudelo et al., 2004). Penilaian risiko prenatal untuk PE, berdasarkan riwayat ibu, hanya bisa mengidentifikasi sekitar 30-40% dari kasus PE untuk tingkat positif palsu antara 10-20% (Papageorghiou et al., 2005).

BEBERAPA CARA UNTUK PREDIKSI PREEKLAMPSIA

Arteri Uterine dan Riwayat Ibu

Kinerja Uta Doppler sendirian untuk memprediksi PE pada awal trimester pertama sejauh ini kurang berguna pada populasi berisiko tinggi yaitu 81,8% dengan Uta Doppler dan 28,6% dengan riwayat ibu. Diperkirakan tingkat deteksi pada trimester pertama dengan Uta Doppler masing-masing untuk akhir dan awal PE sekitar 25% dan 50-60%, (Martin et al., 2001; G’omez et al, 2005.; Melchiorre et al., 2008).

Aliran Darah Arteri Spiralis dengan Color Doppler

Referensi bervariasi untuk PI, RI dan SD ratio dibandingkan dengan hasil laporan sebelumnya oleh beberapa penulis (Murakoshi et al., 1996; Hung et al., 1997), meskipun interval waktu pengukuran berbeda yaitu: kehamilan minggu ke 11-24 dalam studi kami versus minggu ke 13-25 dalam studi Hung dan minggu ke 18-41 dalam studi Murakoshi dalam memprediksi preeklampsia.

Volume Plasenta dan Pola Aliran Vili Vaskular

Hafner et al (2006) menyimpulkan PQ (PQ placenta volume = / CRL crown-rump length) tidak terlalu memuaskan untuk penyaringan preeklamsia pada populasi dengan tingkat risiko preeklampsia rendah dengan sensitivitas 38,5%.

Human Chorionic Gonadotrophins (hCG)

Konsentrasi β hCG sebagai prediktor preeklampsia, tingkat deteksinya berkisar antara 5,1-8,4% (De Leon et al., 2004; Dugoff et al., 2004; Krantz et al., 2004; Pihl et al., 2008; Spencer et al, 2008).

Plasma Protein A Terkait Kehamilan

Poon et al. (2009) menemukan adanya hubungan yang signifikan antara serum Papp-A dan usia kehamilan pada saat persalinan dengan preeklampsia, yaitu masing-masing dengan tingkat rendah sekitar 20% dan 7% dari kehamilan pada awal onset (<34 minggu) dan akhir-onset (> 34 minggu). Pada trimester pertama, hanya 8-23% dari kasus preeklampsia yang memiliki tingkat serum di bawah persentil ke-5 (Smith et al., 2002; Dugoff et al, 2004.; Spencer et al., 2005; Spencer et al, 2008).

A Disintegrin dan Metalloproteases (ADAM 12)

Untuk tingkat positif palsu 5% hanya bisa mendeteksi 26,6% dari preeklampsia (Cowans dan Spencer, 2007; Poon et al., 2008; Spencer et al., 2008).

Faktor Angiogenik

Faktor angiogenik dan anti-angiogenik individu tidak berkinerja baik
dalam mengidentifikasi preeklampsia secara keseluruhan; khususnya, dalam memprediksi masa preeklampsia. Sebaliknya, kombinasi dari analisis seperti rasio PlGF/sEng, memiliki kinerja terbaik sebagai prediktif dengan sensitivitas 100%, spesifisitas
98-99% dan rasio kemungkinan untuk tes positif masing-masing 57,6,
55,6 dan 89,6, untuk memprediksi preeklamsia secara dini (Kusanovic et al., 2009). Pengujian gabungan maternal serum PlGF dan Papp-A dapat mengidentifikasi sekitar 20% dengan tingkat positif palsu (FPR; false-positif rate) 5% (Poon et al., 2008).

Endoglin Terlarut (soluble endoglin; sEng)

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa tingkat sEng yang meningkat pada trimester pertama pada wanita dengan akhir-onset preeklampsia selanjutnya, peneliti lain tidak menemukan perbedaan tingkat sEng antara perempuan dengan preeklampsia dan kontrol sebelum minggu ke 16 (Rana et al., 2007; Baumann et al., 2008).

Protein Plasenta 13 (PP-13)

Chafetz et al (2007) menggunakan pengujian serum PP13 pada minggu ke 9-12 untuk memprediksi preeklampsia berikutnya dengan sensitivitas 79% dengan spesifisitas 90%.

P-Selektin

P-selektin diidentifikasi sebagai penanda terbaik dalam membedakan antara kontrol dan PE (Banzola et al., 2007). Bosio et al. (2001) melaporkan suatu wilayah di bawah ROC (receive-operating characteristic) 0,93 pada minggu ke 10-14 dan NPV mendekati hingga 100% untuk P-selektin dalam memprediksi preeklampsia.

Perubahan Ukuran Platelet dan Peningkatan Volume Platelet

Penelitian crosssectional memberikan bukti bahwa penurunan PLT dan meningginya MPV memiliki sensitivitas 90% dan spesifisitas 83,3% dalam memprediksi preeklampsia (Howarth et al., 1999). Sensitivitas dan spesifisitas MPV pada kehamilan 24-28 minggu dengan nilai cut-off sebesar 8,5 fl untuk memprediksi pre-klampsia adalah masing-masing 78% dan 86% (Walker et al, 1989.; Hutt et al., 1994).

Rasio Lingkar Pinggang (WHR; waist to circumference ratio)

Penggunaan WHR dalam memprediksi perkembangan preeklampsia mempunyai sensitivitas 46,2% (Yamamato et al, 2001).

DISKUSI

Masing-masing metode yang digunakan untuk memprediksi preeklampsia mempunyai tingkat sensitifitas yang berbeba-beda pada usia kehamilan yang berbeda. Untuk Uta Doppler sendiri kurang berguna pada trimester pertama yaitu kira-kira 25% dan dapat meningkat menjadi 50-60% pada trimester kedua dalam memprediksi preeklampsia. Sedangkan untuk prediksi preeklampsia dengan informasi riwayat ibu yaitu sekitar 28,6% (Martin et al., 2001; G’omez et al, 2005.; Melchiorre et al., 2008). Prediksi dengan penurunan volume plasenta dan pola aliran vili vaskular dapat mendeteksi preeklampsia mulai sejak usia kehamilan 11-14 minggu, tapi kurang memuaskan karena hanya dapat mendeteksi dengan sensitivitas 38,5% (Hafner et al., 2006). Sedangkan untuk prediksi dengan penurunan konsentrasi β hCG mempunyai nilai lebih rendah lagi yaitu berkisar antara 5,1-8,4% untuk usia kehamilan yang sama (De Leon et al., 2004; Dugoff et al., 2004; Krantz et al., 2004; Pihl et al., 2008; Spencer et al, 2008). Untuk prediksi dengan menggunakan menurunnya kadar serum PAPP-A dapat mendeteksi preeklampsia hanya sekitar 20% pada onset awal kehamilan ((<34 minggu) dan hanya 7% pada onset akhir kehamilan (> 34 minggu) (Poon et al., 2009).
Pendeteksian preeklampsia dengan menggunakan menurunnya kadar ADAM-12 juga dapat digunakan pada trimester pertama yaitu tetapi dengan tingkat deteksi hanya sebesar 26,6%, sehingga pendeteksian dengan menggunakan ADAM-12 saja kurang bernilai dalam prediksi preeklampsia (Cowans dan Spencer, 2007; Poon et al., 2008; Spencer et al., 2008). Sedangkan penggunaan faktor angiogenik dan anti-angiogenik individu tidak berkinerja baik dalam mengidentifikasi preeklampsia secara keseluruhan; khususnya, dalam memprediksi masa preeklampsia. Sebaliknya, kombinasi dari analisis seperti rasio PlGF/sEng, memiliki kinerja terbaik sebagai prediktif dengan sensitivitas 100%, spesifisitas 98-99% dan rasio kemungkinan untuk tes positif masing-masing 57,6, 55,6 dan 89,6, untuk memprediksi preeklamsia secara dini atau pada trimester pertama yang mungkin dapat mendeteksi preeklampsia pada usia kehamilan 16 minggu (Kusanovic et al., 2009; Rana et al., 2007; Baumann et al., 2008).
Cara lain dalam prediksi preeklampsia dapat menggunakan pengujian berkurangnya serum PP13 yang dapat dimulai pada minggu ke 9-12, dimana dapat memprediksi preeklampsia berikutnya dengan sensitivitas 79% dengan spesifisitas 90% (Chafetz et al., 2007). Bahkan meningkatnya P selektin dapat mengidentifikasi preeklampsia pada kehamilan minggu ke 10-14 dengan ROC (receive-operating characteristic) dan NPV mendekati hingga 100% (Bosio et al., 2001).
Cara sederhana untuk pendeteksian preeklampsia dapat juga dengan mengetahui penurunan PLT dan meningginya MPV memiliki sensitivitas 90% dan spesifisitas 83,3% (Howarth et al., 1999). Sensitivitas dan spesifisitas MPV pada kehamilan 24-28 minggu dengan nilai cut-off sebesar 8,5 fl untuk memprediksi preeklampsia adalah masing-masing 78% dan 86% (Walker et al, 1989.; Hutt et al., 1994). Cara sederhana lain yang dapat digunakan yaitu dengan pengukuran meningkatnya WHR yang mana dapat memprediksi perkembangan preeklampsia dengan sensitivitas sekitar 46,2% (Yamamato et al, 2001).

KESIMPULAN

1. P-selektin diidentifikasi sebagai penanda tunggal terbaik dalam membedakan antara kontrol dan preeklampsia yang dapat mendeteksi pada kehamilan mulai minggu ke 10-14 dengan wilayah ROC dibawah (receive-operating characteristic) 0,93 dan NPV mendekati hingga 100%.

2. Cara yang terbaik adalah dengan kombinasi beberapa cara. Cara kombinasi yang memiliki kinerja terbaik adalah kombinasi dari analisis rasio PlGF/sEng, yang memiliki nilai prediktif dengan sensitivitas 100%, dan spesifisitas 98-99% yang dapat memprediksi preeklamsia secara dini atau pada trimester pertama yang mungkin dapat mendeteksi preeklampsia pada usia kehamilan 16 minggu.

KEPUSTAKAAN
1. Anna RD, et al. First trimester serum PAPP-A and NGAL in the prediction. In: Anna RD, et al, editor. John Wiley & Sons Ltd. 2009; 20: 1066-68.
2. Lee LC, et al. Mid-trimester b-hCG levels incorporated in a multifactorial. In: Lee LC, et al, editor. John Wiley & Sons Ltd. 2000; 20: 738-43.
3. Hertig A, Liere P. New markers in preeclampsia. In: Hertig A, Liere P, editor. ScienceDirect Elvesier. 2010.
4. Herraiz I, et al. Application of a first-trimester prediction model for pre-eclampsia based on uterine arteries and maternal history in high-risk pregnancies. In: Herraiz I, et al, editor. Wiley InterScience. 2009; 29: 1123–29.
5. Duerloo KL, et al. Color Doppler ultrasound of spiral artery blood flow forprediction of hypertensive disorders and intra uterine growth restriction: a longitudinal study. In: Duerloo KL, et al, editor. Wiley InterScience. 2007; 27: 1011–6.
6. Zhong Y, et al. First-trimester assessment of placenta function and the prediction of preeclampsia and intrauterine rowth restriction. In: Zhong Y, et al, editor. Wiley InterScience. 2010; 30: 293–308.
7. Dundar O, et al. Longitudinal study of platelet size changes in gestation and predictive power of elevated MPV in development of pre-eclampsia. In: Dundar O, et al, editor. Wiley InterScience. 2008; 28: 1052–6.
8. Yamamoto S, et al. Waist to Hip Circumference Ratio as a Significant Predictor of Preeclampsia, Irrespective of Overall Adiposity. In: Yamamoto S, et al, editor. Department of Obstetrics and Gynecology Faculty of Medicine Kagoslzirna University. 2001; 27: 27-32.

Literatur : DOWNLOAD DI SINI

Tulisan ini dapat juga dibaca pada blog saya yang lain (klik)

tabel status gizi

4 Jan

Tabel status gizi

Tabel Status Gizi
INDEKS
STATUS GIZI AMBANG BATAS *)
Berat badan menurut umur (BB/U) Gizi Lebih > + 2 SD
Gizi Baik ≥ -2 SD sampai +2 SD
Gizi Kurang < -2 SD sampai ≥ -3 SD
Gizi Buruk < – 3 SD
Tinggi badan menurut umur (TB/U) Normal ≥ 2 SD
Pendek (stunted) < -2 SD
Berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) Gemuk > + 2 SD
Normal ≥ -2 SD sampai + 2 SD
Kurus (wasted) < -2 SD sampai ≥ -3 SD
Kurus sekali < – 3 SD

Sumber : Depkes RI, 2002.

tulisan ini juga dapat dibaca pada blog saya yang lain (klik)